PROMO IMLEK KLIKHOMES

PROMO IMLEK KLIKHOMES
NIKMATI PROMO INI, WAKTU TERBATAS

Related Post

Menggiurkan Juga Jadi Bumper Industri Franchise

Membangun franchise seperti membangun suatu teritorial baru. Semuanya harus serba eksklusif. Eksklusif dilihat dari produk, layanan, nama, dan logo (yang sudah tentu jadi harga mati), dan eksklusif pula dari tampilan gerai dan warnanya. Faktor ini sebisa mungkin tak bisa ditiru oleh pihak lain.

Hukum ini sudah dipahami betul oleh mereka yang ingin memasuki industri franchise. Soal tampilan gerai, misalnya, meski keunikan utama yang mereka jual bukan gerai, tampilan unik gerai mati-matian mereka buat dan sebisa mungkin juga sulit ditiru. Karena itu, kerap gerai franchise baik yang besar maupun gerai kecil mulai dari booth hingga gerobak mereka buat sangat unik dengan detail yang jelimet. Saking takutnya melenceng dari konsep sampai-sampai sejumlah franchise punya divisi (pekerjaan) khusus membuat gerai, termasuk franchise-franchise skala kecil yang gerainya berupa gerobak atau booth.

Apakah pembuatan gerai ini tak bisa diorderkan ke pihak lain? Pertanyaan ini sebenarnya sangat wajar. Namun banyak franchise, bahkan franchise atau kemitraan model franchise yang modalnya kecil, lebih memilih bercapek-capek membuat gerainya ketimbang menyerahkan pembuatannya ke pihak ketiga. Alasannya untuk menjaga standardisasi, agar semua gerai terjamin kesamaannya. Puji Irwanto, pendiri dan pemilik jaringan Crush Zone lebih memilih membuat gerainya sendiri. Sebenarnya ini wajar karena sebelum mengembangkan Crush Zone ia sudah berkecimpung di dunia permebelan. Dan ketika Crush Zone ia kembangkan ia tak susah membuat gerainya sendiri lengkap dengan ciri khasnya yang memang unik. Malah sekarang ia terpikirkan untuk membuka usaha pembuatan gerai khusus bagi kalangan industri franchise bagi franchise-franchise lain yang ingin membuka gerai baru.

Abri Mada yang kini mengembangkan empat merek gerai makanan (Ikki Bento, Ikki Sushi, BergerKoe, dan Yami Bento) pun setali dua uang dengan membuat sendiri gerai-gerainya. Dan jika ditelusuri lebih jauh, kebanyakan franchise-franchise kecil juga lebih memilih membuat gerainya sendiri. Dalam hal ini, mereka mempekerjakan tukang (pekerja) upahan untuk mewujudkan rancangannya dengan pengawasan dan pengupahan yang diberikannya. Apakah ini efektif?

Ada cerita menarik mengenai ini. Sebuah usaha makanan tradisional yang dijual di atas gerobak mulai menawarkan kerjasama model franchise-nya pada tahun 2004. Saking ketatnya pada konsep, ia juga menangani sendiri pembuatan gerobaknya. Pada awalnya ketika mitra masih bisa dihitung dengan jari, pembuatan gerobak berjalan lancar. Begitu usahanya makin populer, dan calon mitranya (franchisee-nya) makin banyak ia kewalahan menyelesaikan gerobak-gerobak itu. “Belum lagi capek mengerjakannya dan habis waktu di pembuatan gerobak doang,” katanya bercerita.

Suatu ketika, karena desakan mitranya yang meminta gerobaknya cepat selesai sementara ia tak mungkin menyelesaikannya sendiri sesuai jadwal akhirnya ia tak punya pilihan. Ia mencari pihak ketiga yang mau membantu membuatkan gerobaknya. E, ternyata ini pun tak gampang. Hampir tak ada perusahaan khusus pembuat gerobak yang bisa mewujudkan model yang sesuai harapannya. Kebanyakan pembuat gerobak-gerobak yang ia temui adalah pembuat gerobak standar seperti pembuat gerobak bakso, mie ayam, atau gerobak lainnya yang tak mementingkan kaidah artistik. Padahal gerobak yang ia rancang penuh dengan detail dan memiliki sejumlah panel yang memerlukan pekerjaan khusus. Meski begitu dengan terpaksa ia melemparkan pesanan pada mereka.

Pada awalnya ia harus turut serta mengawasi pengerjaannya hampir tahap demi tahap. Maklumlah ia tak mau bentuk counternya melenceng dari konsep yang ia buat. Namun setelah orderan beberapa gerai akhirnya ia memberikan kepercayaan sepenuhnya pada mitranya itu. Malah ia mendapatkan sejumlah tips dari mereka untuk membuat gerobaknya lebih praktis sehingga mudah ditangani dengan perubahan bentuk di sana-sini. Selain itu harganya pun relatif sama.

Pasar Khusus Pembuat Outlet

Di samping itu, kata Hangga, gerai dalam bentuk knock-down memudahkan franchisor juga dalam rangka mengirimkan counter-counternya ke franchisee-franchisee yang jauh dari kantor pusatnya. Karena bentuknya lempengan-lempengan, counter itu mudah dikemas dalam pengiriman. Dan karena bahannya ringan biaya pengirimannya pun relatif lebih murah.

Jika itu terjadi sekarang, ia tak akan sulit mencari perusahaan pembuat gerobak/booth. Kini ada sejumlah pihak yang menggarap pasar ini, salah satunya adalah Hangga Pramudyanto. Hangga melalui perusahaannya CV Handal Karya menawarkan jasa pembuatan booth atau outlet khusus bagi jaringan franchise. Usaha ini ia rintis mulai tahun 2007 dan sudah membuahkan hasil yang lumayan.

Lihat saja, meski usahanya terbilang baru Hangga sudah mendapatkan sejumlah order dari franchise-franchise ternama di negeri ini. Kebab Turki Baba Rafi, Pisang Goreng Ta B'Nana, Ayam Goreng Fatmawati, Motor Bridal, MagFood Amazy, Bakmi Gila, Home Mate Ice Cream, dan sebagainya, mempercayakan pembuatan sebagian gerainya ke Handal Karya. Kebab Turki, menurut pendirinya Hendy Setiono, mengorder gerainya dari Hangga untuk keperluan pameran yang diadakan di Jakarta.

Seperti sudah banyak diberitakan, Kebab Turki Baba Rafi adalah jaringan penjual kebab yang berkantor pusat di Surabaya. Franchise yang kini memiliki gerai sampai 370-an dan sudah go international dengan buka cabang di Malaysia itu baru masuk Ibu Kota Jakarta tahun 2007 lalu. Sedangkan proyeknya yang digarap Handal Karya terjadi pada awal tahun 2008.

Booth yang dibangun Handal Karya bisa berupa gerobak, outlet semi permanen atau outlet permanen. Kelebihan counter yang dibuatnya, menurut Hangga, terletak pada model yang dikembangkannya. Desain yang dibuatnya diurai dalam bentuk booth atau knock-down dan terbuat dari bahan yang ringan tetapi tahan terhadap cuaca. Model knock-down memudahkan dalam industri franchise. “Industri franchise memerlukan lokasi yang strategis. Jika suatu lokasi ternyata kurang menguntungkan dan si franchisee berniat memindahkannya ke tempat baru, dengan sistem knock-down prosesnya tidak akan sulit,” kata Hangga. Franchisee tinggal mengurainya lagi dan memasangnya kembali di tempat baru. Tentu saja soal pindah-pindahan ini sesuai dengan perjanjian yang disepakati antara pihak franchisee bersangkutan dengan franchisor-nya.

“Selama ini kami sudah banyak menangani pembangunan maupun mendesain rumah dan perkantoran. Tetapi saya melihat permintaan terhadap desain dan pembuatan outlet waralaba (franchise) akan besar,” kata Hangga. “Karena itu kami saat ini menggarap pasar ini. Ini akan menjadi bisnis yang berkembang dengan baik,” tutur Hangga, lulusan desain interior Universitas Pancasila.

Pasar pembuat gerai ini sebenarnya memang besar. Saat ini dari total sekitar 700-an usaha yang dikembangkan dengan sistem duplikasi baik sistem franchise atau pola kemitraan yang mengadopsi sistem franchise disebut-sebut memiliki 32 ribuan gerai secara keseluruhan. Jika semua gerai itu dianggap gerobak dengan biaya pembuatannya Rp 4 juta saja (harga minimal yang ditawarkan Hangga) per-gerobak, maka seluruh gerobak itu memerlukan biaya pembuatan sebesar Rp 160 miliar. Padahal banyak franchise yang memerlukan bentuk gerai dengan biaya berlipat dari harga minimal yang Hangga tawarkan tadi. Jadi pasar pembuat counter ini bisa sangat besar. Pantas saja jika Hangga menyebutkan, pasar franchise yang digarapnya sangat menggiurkan dan kebetulan tak banyak yang menggarapnya. (Deden Setiawan)

Dikutip dari :
http://www.majalahduit.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=55:menggiurkan-juga-jadi-bumper-industri-franchise&catid=35:cat-franchise&Itemid=2

1 komentar:

Twitter Delicious Facebook Digg Favorites More